Berbicara tentang TUHAN maka sudah pasti perbincangan itu akan berkaitan dengan peristiwa perbuatan-perbuatan Ilahi yang ajaib dan yang langsung pernah terjadi didalam kehidupan manusia.Jadi adalah sebuah kesalahan fatal kalau berbicara soal TUHAN namun yang dibicarakan hanyalah masalah keterbatasan kuasa berbuat sesuatu yang nyata dari suatu sosok yang pertuhankan. Perbincangan dan pembicaraan seperti itu adalah suatu bukti kebodohan dari orang-orang yang justru tidak mengerti dan tidak mengenal apa itu sosok TUHAN dan apa itu makna kata'TUHAN'.
Karena membicarakan soal sifat sifat benda yang tidak memiliki kuasa, namun mencoba menisbatkannya sifat benda mati tersebut kepada TUHAN, seolah-olah TUHAN itu adalah suatu sosok yang bersifat terbatas, maka itu adalah suatu perbuatan pameran kebohongan yang seolah-olah mengerti apa itu TUHAN dan seperti apa itu sifat TUHAN.Sebab TUHAN hanya bisa diketahui sifat-Nya dari pernyataan-Nya sendiri kepada manusia.
Jadi adalah omong kosong kalau manusia mencoba berbicara soal Pribadi TUHAN, kalau TUHAN sendiri tidak pernah menyatakan siapa Diri-Nya dan bagaimana sifat-Nya kepada seseorang tersebut atau kepada sekelompok orang tersebut. Sebab adalah sebuah kemustahilan bagi manusia untuk mencoba menjabarkan dan menyimpulkan soal sifat TUHAN namun manusia tersebut atau sekelompok orang tersebut sama sekali tidak pernah berhubungan komunikasi secara langsung dengan TUHAN. Atau seseorang atau sekelompok orang tersebut tidak pernah mendapatkan pengenalan diri dari TUHAN lewat penyataan langsung dari TUHAN lewat suatu peristiwa yang nyata. Karena itulah, melalui tulisan ini saya ingin meyampaikan apa yang perlu diketahui dan difahami setiap orang dalam setiap usahanya mencoba memperbincangkan soal ke-TUHAN-an.
Kata “TUHAN” didalam kosa kata bahasa Indonesai berasal dari kata “Tuan” dan memiliki pengertian dan maksud yang sama, yaitu penguasa atau yang dihormati atau yang dijunjung atau yang dianggap lebih tinggi dari sendiri. Kata”Tuhan” diperuntukkan bagi Sang Pencipta atau yang Ilahi sedangkan kata“Tuan” diperuntukkan kepada manusia atau yang Insani. Kata “Tuhan” atau”Tuan” didalam kosa kata bahasa Indonesia memiliki pengertian yang sama dengan kata”Rabb” didalam bahasa Arab. Kata”Rabb” dalam bahasa Arab adalah raja, penguasa, pemilik yang dalam konteks Islam merujuk kepada Allah. Di dalam Al-Qur'an, Rabb adalah nama yang umum untuk Tuhan.
Dalam tata bahasa Arab kata “Rabb” adalah bentuk mashdar, yang ber¬arti "memiliki kemampuan atau memiliki kuasa untuk mengembang¬kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna". Jadi “Rabb” adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa'il (pelaku) yang dianggap mampu untuk mengembang¬kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna".
Jika di-idhafah-kan (ditambahkan kepada yang lain), maka kata “Rabb” bisa dinisbatkan kepada sesuatu yang disembah(Allah) dan bisa juga dinisbatkan kepada manusia(majikan) yang disegani atau dighormati. Jadi secara simple penisbatan kata “TUHAN” atau “TUAN” kepada suatu sosok adalah dengan dasar, bahwa satu sosok itu wajib memiliki suatu kuasa atau suatu kelebihan dihadapan mata manusia, yaitu kemampuan secara nyata untuk mengembang¬kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna".
QS 2 1. Al Faatihah
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
alhamdu lillaahi rabbi al'aalamiina
Tuhan = rabbi = رَبِّ
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
"Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin" (segala puji milik Allah, Rabb seluruh semesta alam), rabb di sana diterjemahkan sebagai Pengatur, Pemelihara dan Penguasa, tetapi secara tata bahasa, arti rabb adalah pengatur. Sesuatu dikatakan pengatur kalau memiliki aturan (seperti penulis dengan tulisannya, pengarang dengan karangannya). Kepengaturan Allah di alam semesta selanjutnya diistilahkan sebagai Rubbubiyah ( ربوبية )
QS. 27. An Naml
اِنَّمَاۤ اُمِرۡتُ اَنۡ اَعۡبُدَ رَبَّ هٰذِهِ الۡبَلۡدَةِ الَّذِىۡ حَرَّمَهَا وَلَهٗ كُلُّ شَىۡءٍ
وَّاُمِرۡتُ اَنۡ اَكُوۡنَ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَۙ
innamaa umirtu an a'buda rabba haadzihi albaldati alladzii harramahaa walahu kullu syay-in waumirtu an akuuna mina almuslimiina
Tuhan = rabba = رَبَّ
91. Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
QS 12. Yusuf
يٰصَاحِبَىِ السِّجۡنِ اَمَّاۤ اَحَدُكُمَا فَيَسۡقِىۡ رَبَّهٗ خَمۡرًاۚ وَاَمَّا الۡاٰخَرُ فَيُصۡلَبُ فَتَاۡكُلُ الطَّيۡرُ مِنۡ رَّاۡسِهٖؕ
قُضِىَ الۡاَمۡرُ الَّذِىۡ فِيۡهِ تَسۡتَفۡتِيٰنِؕ
yaa shaahibayi alssijni ammaa ahadukumaa fayasqii rabbahu khamran wa-ammaa al-aakharu fayushlabu fata/kulu alththhayru min ra/sihi qudhiya al-amru alladzii fiihi tastaftiyaani
Tuannya = rabbahu = رَبَّهُۥ
41. Hai kedua penghuni penjara: "Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)."
وَقَالَ لِلَّذِىۡ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنۡهُمَا اذۡكُرۡنِىۡ عِنۡدَ رَبِّكَ
فَاَنۡسٰٮهُ الشَّيۡطٰنُ ذِكۡرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِيۡنَ
waqaala lilladzii zhanna annahu naajin minhumaa udzkurnii 'inda rabbika fa-ansaahu alsysyaythaanu dzikra rabbihi falabitsa fii alssijni bidh'a siniina
Tuanmu = rabbika = رَبِّكَ
42. Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.
وَقَالَ الۡمَلِكُ ائۡتُوۡنِىۡ بِهٖۚ فَلَمَّا جَآءَهُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰى رَبِّكَ فَسۡــَٔلۡهُ مَا بَالُ النِّسۡوَةِ الّٰتِىۡ قَطَّعۡنَ
اَيۡدِيَهُنَّؕ اِنَّ رَبِّىۡ بِكَيۡدِهِنَّ عَلِيۡمٌ
waqaala almaliku i/tuunii bihi falammaa jaa-ahu alrrasuulu qaala irji' ilaa rabbika fais-alhu maa baalu alnniswati allaatii qaththha'na aydiyahunna inna ...rabbii ...bikaydihinna 'aliimun
Tuanmu = rabbika = رَبِّكَ
Tuhanku = rabbii = رَبِّى
50. Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku." Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka."
“Rabbu” (Tuhan Allah)
“Rabbul’alamiin” (Penguasa semesta alam)
“Rabbunnas” (Tuhan manusia).
“Rabbuddaar” (Tuan rumah)
“Rabbul ibiil” (Pemilik unta)
TUHAN atau TUAN atau JUNJUNGAN atau BOSS atau MAJIKAN atau SIR akan muncul sebagai Predikat Tinggi/Agung kepada OKNUM yang dihormati/yang disegani, yang mampu membuktikan ada kekuasaan ditangannya dan dapat disaksikan dan dirasakan langsung dihadapan mata manusia lain. Tanpa secuil bukti kuasa /power yang nyata dari seorang oknum manusia,maka oknum tersebut tidak layak disebut TUAN.Tanpa adanya bukti kuasa/power yang nyata dan berlimpah dari seorang oknum sesembahan, maka oknum/objek yang disembah tersebut tidak layak diper-TUHAN-kan.
Mungkinkah manusia dengan secara jujur akan mengatakan "Tuan" kepada seorang pengemis yang mencari sesuap nasi dari hasil pemberian sesama manusia lain?.Mungkinkah anda dengan hati yang jujur pula akan mempertuan/menjunjung seorang pembantu rumah tangga anda yang justru berada didalam kekuasaan keluarga anda?. Mungkinkah anda akan mempertuan pembantu rumah tangga anda sekalipun pembantu rumah tangga anda tersebut gemar berkoar-koar dan mengaku ngaku kalau dirinya adalah sebagai seorang anak saudagar kaya/konglomerat yang layak diposisikan sebagai "Tuan/Junjungan" bagi anda sekeluarga?.
Bersediakah anda menjadikan seorang pembantu rumah tangga anda sebagai Tuan/Junjungan dirumah yang anda miliki hanya karena si pembantu tersebut berteriak-teriak dan mengatakan kalau dia adalah seorang kaya dan konglomerat…dan si pembantu tersebut harus dihormati sebagai Tuan/Junjungan bagi keluarga anda?. Jawablah beberapa pertanyaan saya diatas dengan hati yang jujur!!
Namun tanpa menunggu jawaban anda sekalipun,maka saya berani memastikan kalau anda akan dengan tegas dan jelas menolak memper-Tuan- seorang pembantu rumah tangga anda didalam rumah kekuasaan dan hak milik anda!Saya berani menjamin hal itu 100 %.
Karena suka tidak suka, anda akan berpijak pada patokan standart kelayakan seseorang itu untuk layak diper-Tuan.Anda akan berpatokan kepada bukti...bukti...dan bukti.Bukan berpatokan kepada bualan dan klaim omong kosong.!!
Maka demikian juga hukum wajib dalam melekatkan dan mengakui status ke-TUHAN-an dari oknum sesembahan yang kita sembah.Sang sesembahan tersebut Wajib menyertakan bukti perbuatan dan kemahakuasaannya dihadapan mata manusia secara langsung.Dan perbuatan oknum sesembahan itu secara nyata tidak mampu ditandingi/ditiru manusia.
Kalau anda tidak berdiri diatas pijakan bukti perbuatan kuasa untuk memper-TUHAN-kan seorang oknum sesembahan,maka saya pastikan anda adalah manusia yang salah fatal karena mempertuhankan sesuatu tanpa melalui suatu bukti perbuatan yang nyata dengan bukti kuasa perbuatan yang nyata pula
Sebab mengapa?
Bagaimana anda bisa mempertuhankan suatu atau seorang oknum sesembahan yang tidak sekalipun berbuat apa-apa dihadapan mata manusia secara langsung?. Bagaimana anda bisa menjadi sebegitu mudahnya mempercayai sebuah klaim dan pengakuan kalau ada oknum sesembahan yang mengaku ngaku sebagai Tuhan tersebut, sedangkan untuk membunuh nyamuk pun sesembahan palsu tersebut terbukti tidak pernah mampu melakukannya?
Kalau berbuat kuasa yang ringan ringan saja dihadapan mata manusia secara langsung si sesembahan yang tidak mampu berbuat demikian, bagaimana anda bisa menjadi sebegitu mudahnya untuk mau percaya saja untuk memper-TUHAN-kan seorang yang membuat klaim dan pengakuan tanpa bukti?
Jadi harus ada bukti perbuatan nyata yang dapat diperlihatkan pihak yang dijunjung/dipertuan/diper-TUHAN tersebut dihadapan mata manusia, kalau oknum sesembahan tersebut memang memiliki kekuasaaan yang berlimpah untuk melakukan perbuatan-perbuatan nyata dan ajaib yang tidak mampu ditiru manusia. Maka sedemikian Itulah bukti ke-TUHAN-an sang oknum sesembahan yang membuatnya layak di untuk di per-Tuhan-kan.
Kalau status/predikat ketuhanan tidak mensyaratkan bukti perbuatan kuasa/keperkasaan yang tidak mampu ditiru manusia, maka semua orang akan dengan mudah mengaku ngaku sebagai oknum TUHAN/TUAN/JUNJUNGAN/BOSS. Dan seekor kambing dan seekor kadal pun akan ikut ikutan juga mengaku TUHAN jikalau syarat untuk layak dipertuhankan itu sama sekali tidak pernah dimengerti.
Karena membicarakan soal sifat sifat benda yang tidak memiliki kuasa, namun mencoba menisbatkannya sifat benda mati tersebut kepada TUHAN, seolah-olah TUHAN itu adalah suatu sosok yang bersifat terbatas, maka itu adalah suatu perbuatan pameran kebohongan yang seolah-olah mengerti apa itu TUHAN dan seperti apa itu sifat TUHAN.Sebab TUHAN hanya bisa diketahui sifat-Nya dari pernyataan-Nya sendiri kepada manusia.
Jadi adalah omong kosong kalau manusia mencoba berbicara soal Pribadi TUHAN, kalau TUHAN sendiri tidak pernah menyatakan siapa Diri-Nya dan bagaimana sifat-Nya kepada seseorang tersebut atau kepada sekelompok orang tersebut. Sebab adalah sebuah kemustahilan bagi manusia untuk mencoba menjabarkan dan menyimpulkan soal sifat TUHAN namun manusia tersebut atau sekelompok orang tersebut sama sekali tidak pernah berhubungan komunikasi secara langsung dengan TUHAN. Atau seseorang atau sekelompok orang tersebut tidak pernah mendapatkan pengenalan diri dari TUHAN lewat penyataan langsung dari TUHAN lewat suatu peristiwa yang nyata. Karena itulah, melalui tulisan ini saya ingin meyampaikan apa yang perlu diketahui dan difahami setiap orang dalam setiap usahanya mencoba memperbincangkan soal ke-TUHAN-an.
Kata “TUHAN” didalam kosa kata bahasa Indonesai berasal dari kata “Tuan” dan memiliki pengertian dan maksud yang sama, yaitu penguasa atau yang dihormati atau yang dijunjung atau yang dianggap lebih tinggi dari sendiri. Kata”Tuhan” diperuntukkan bagi Sang Pencipta atau yang Ilahi sedangkan kata“Tuan” diperuntukkan kepada manusia atau yang Insani. Kata “Tuhan” atau”Tuan” didalam kosa kata bahasa Indonesia memiliki pengertian yang sama dengan kata”Rabb” didalam bahasa Arab. Kata”Rabb” dalam bahasa Arab adalah raja, penguasa, pemilik yang dalam konteks Islam merujuk kepada Allah. Di dalam Al-Qur'an, Rabb adalah nama yang umum untuk Tuhan.
Dalam tata bahasa Arab kata “Rabb” adalah bentuk mashdar, yang ber¬arti "memiliki kemampuan atau memiliki kuasa untuk mengembang¬kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna". Jadi “Rabb” adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa'il (pelaku) yang dianggap mampu untuk mengembang¬kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna".
Jika di-idhafah-kan (ditambahkan kepada yang lain), maka kata “Rabb” bisa dinisbatkan kepada sesuatu yang disembah(Allah) dan bisa juga dinisbatkan kepada manusia(majikan) yang disegani atau dighormati. Jadi secara simple penisbatan kata “TUHAN” atau “TUAN” kepada suatu sosok adalah dengan dasar, bahwa satu sosok itu wajib memiliki suatu kuasa atau suatu kelebihan dihadapan mata manusia, yaitu kemampuan secara nyata untuk mengembang¬kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna".
QS 2 1. Al Faatihah
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
alhamdu lillaahi rabbi al'aalamiina
Tuhan = rabbi = رَبِّ
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
"Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin" (segala puji milik Allah, Rabb seluruh semesta alam), rabb di sana diterjemahkan sebagai Pengatur, Pemelihara dan Penguasa, tetapi secara tata bahasa, arti rabb adalah pengatur. Sesuatu dikatakan pengatur kalau memiliki aturan (seperti penulis dengan tulisannya, pengarang dengan karangannya). Kepengaturan Allah di alam semesta selanjutnya diistilahkan sebagai Rubbubiyah ( ربوبية )
QS. 27. An Naml
اِنَّمَاۤ اُمِرۡتُ اَنۡ اَعۡبُدَ رَبَّ هٰذِهِ الۡبَلۡدَةِ الَّذِىۡ حَرَّمَهَا وَلَهٗ كُلُّ شَىۡءٍ
وَّاُمِرۡتُ اَنۡ اَكُوۡنَ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَۙ
innamaa umirtu an a'buda rabba haadzihi albaldati alladzii harramahaa walahu kullu syay-in waumirtu an akuuna mina almuslimiina
Tuhan = rabba = رَبَّ
91. Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
QS 12. Yusuf
يٰصَاحِبَىِ السِّجۡنِ اَمَّاۤ اَحَدُكُمَا فَيَسۡقِىۡ رَبَّهٗ خَمۡرًاۚ وَاَمَّا الۡاٰخَرُ فَيُصۡلَبُ فَتَاۡكُلُ الطَّيۡرُ مِنۡ رَّاۡسِهٖؕ
قُضِىَ الۡاَمۡرُ الَّذِىۡ فِيۡهِ تَسۡتَفۡتِيٰنِؕ
yaa shaahibayi alssijni ammaa ahadukumaa fayasqii rabbahu khamran wa-ammaa al-aakharu fayushlabu fata/kulu alththhayru min ra/sihi qudhiya al-amru alladzii fiihi tastaftiyaani
Tuannya = rabbahu = رَبَّهُۥ
41. Hai kedua penghuni penjara: "Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)."
وَقَالَ لِلَّذِىۡ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنۡهُمَا اذۡكُرۡنِىۡ عِنۡدَ رَبِّكَ
فَاَنۡسٰٮهُ الشَّيۡطٰنُ ذِكۡرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِيۡنَ
waqaala lilladzii zhanna annahu naajin minhumaa udzkurnii 'inda rabbika fa-ansaahu alsysyaythaanu dzikra rabbihi falabitsa fii alssijni bidh'a siniina
Tuanmu = rabbika = رَبِّكَ
42. Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.
وَقَالَ الۡمَلِكُ ائۡتُوۡنِىۡ بِهٖۚ فَلَمَّا جَآءَهُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰى رَبِّكَ فَسۡــَٔلۡهُ مَا بَالُ النِّسۡوَةِ الّٰتِىۡ قَطَّعۡنَ
اَيۡدِيَهُنَّؕ اِنَّ رَبِّىۡ بِكَيۡدِهِنَّ عَلِيۡمٌ
waqaala almaliku i/tuunii bihi falammaa jaa-ahu alrrasuulu qaala irji' ilaa rabbika fais-alhu maa baalu alnniswati allaatii qaththha'na aydiyahunna inna ...rabbii ...bikaydihinna 'aliimun
Tuanmu = rabbika = رَبِّكَ
Tuhanku = rabbii = رَبِّى
50. Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku." Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka."
“Rabbu” (Tuhan Allah)
“Rabbul’alamiin” (Penguasa semesta alam)
“Rabbunnas” (Tuhan manusia).
“Rabbuddaar” (Tuan rumah)
“Rabbul ibiil” (Pemilik unta)
TUHAN atau TUAN atau JUNJUNGAN atau BOSS atau MAJIKAN atau SIR akan muncul sebagai Predikat Tinggi/Agung kepada OKNUM yang dihormati/yang disegani, yang mampu membuktikan ada kekuasaan ditangannya dan dapat disaksikan dan dirasakan langsung dihadapan mata manusia lain. Tanpa secuil bukti kuasa /power yang nyata dari seorang oknum manusia,maka oknum tersebut tidak layak disebut TUAN.Tanpa adanya bukti kuasa/power yang nyata dan berlimpah dari seorang oknum sesembahan, maka oknum/objek yang disembah tersebut tidak layak diper-TUHAN-kan.
Mungkinkah manusia dengan secara jujur akan mengatakan "Tuan" kepada seorang pengemis yang mencari sesuap nasi dari hasil pemberian sesama manusia lain?.Mungkinkah anda dengan hati yang jujur pula akan mempertuan/menjunjung seorang pembantu rumah tangga anda yang justru berada didalam kekuasaan keluarga anda?. Mungkinkah anda akan mempertuan pembantu rumah tangga anda sekalipun pembantu rumah tangga anda tersebut gemar berkoar-koar dan mengaku ngaku kalau dirinya adalah sebagai seorang anak saudagar kaya/konglomerat yang layak diposisikan sebagai "Tuan/Junjungan" bagi anda sekeluarga?.
Bersediakah anda menjadikan seorang pembantu rumah tangga anda sebagai Tuan/Junjungan dirumah yang anda miliki hanya karena si pembantu tersebut berteriak-teriak dan mengatakan kalau dia adalah seorang kaya dan konglomerat…dan si pembantu tersebut harus dihormati sebagai Tuan/Junjungan bagi keluarga anda?. Jawablah beberapa pertanyaan saya diatas dengan hati yang jujur!!
Namun tanpa menunggu jawaban anda sekalipun,maka saya berani memastikan kalau anda akan dengan tegas dan jelas menolak memper-Tuan- seorang pembantu rumah tangga anda didalam rumah kekuasaan dan hak milik anda!Saya berani menjamin hal itu 100 %.
Karena suka tidak suka, anda akan berpijak pada patokan standart kelayakan seseorang itu untuk layak diper-Tuan.Anda akan berpatokan kepada bukti...bukti...dan bukti.Bukan berpatokan kepada bualan dan klaim omong kosong.!!
Maka demikian juga hukum wajib dalam melekatkan dan mengakui status ke-TUHAN-an dari oknum sesembahan yang kita sembah.Sang sesembahan tersebut Wajib menyertakan bukti perbuatan dan kemahakuasaannya dihadapan mata manusia secara langsung.Dan perbuatan oknum sesembahan itu secara nyata tidak mampu ditandingi/ditiru manusia.
Kalau anda tidak berdiri diatas pijakan bukti perbuatan kuasa untuk memper-TUHAN-kan seorang oknum sesembahan,maka saya pastikan anda adalah manusia yang salah fatal karena mempertuhankan sesuatu tanpa melalui suatu bukti perbuatan yang nyata dengan bukti kuasa perbuatan yang nyata pula
Sebab mengapa?
Bagaimana anda bisa mempertuhankan suatu atau seorang oknum sesembahan yang tidak sekalipun berbuat apa-apa dihadapan mata manusia secara langsung?. Bagaimana anda bisa menjadi sebegitu mudahnya mempercayai sebuah klaim dan pengakuan kalau ada oknum sesembahan yang mengaku ngaku sebagai Tuhan tersebut, sedangkan untuk membunuh nyamuk pun sesembahan palsu tersebut terbukti tidak pernah mampu melakukannya?
Kalau berbuat kuasa yang ringan ringan saja dihadapan mata manusia secara langsung si sesembahan yang tidak mampu berbuat demikian, bagaimana anda bisa menjadi sebegitu mudahnya untuk mau percaya saja untuk memper-TUHAN-kan seorang yang membuat klaim dan pengakuan tanpa bukti?
Jadi harus ada bukti perbuatan nyata yang dapat diperlihatkan pihak yang dijunjung/dipertuan/diper-TUHAN tersebut dihadapan mata manusia, kalau oknum sesembahan tersebut memang memiliki kekuasaaan yang berlimpah untuk melakukan perbuatan-perbuatan nyata dan ajaib yang tidak mampu ditiru manusia. Maka sedemikian Itulah bukti ke-TUHAN-an sang oknum sesembahan yang membuatnya layak di untuk di per-Tuhan-kan.
Kalau status/predikat ketuhanan tidak mensyaratkan bukti perbuatan kuasa/keperkasaan yang tidak mampu ditiru manusia, maka semua orang akan dengan mudah mengaku ngaku sebagai oknum TUHAN/TUAN/JUNJUNGAN/BOSS. Dan seekor kambing dan seekor kadal pun akan ikut ikutan juga mengaku TUHAN jikalau syarat untuk layak dipertuhankan itu sama sekali tidak pernah dimengerti.
















































Tidak ada komentar:
Posting Komentar